Musik dan jenis2nya bagi saya ternyata mampu menegaskan fase2 pertumbuhan saya sebagai seseorang. Bukannya mutlak menjadi indikator kedewasaan, namun jika disadari perkembangan pola pikir, perilaku, dan mentalitas yang saya rasakan sangat kental dengan backsound musik2 yang berubah2…dari seorang anak yang tergila2 sandiwara radio, atau lagu2 anak lain a la sanggar cerita, sampai seseorang yang membuat laporan keuangan sambil mendengarkan Kings of Convenience.
Saya masih ingat ketika pertama kali saya mendengarkan lagu the dead boys yang dicover GN’R (bukan Gum N’ Roses seperti kata fila silit)
(bayangkan intro lagu itu fade in…)
Ain’t itfun when you’re always on the run
Ain’t itfun when your friends despise what you become
Ain’t itfun when you get so high
Well…that you, you just can’t come
Ain’t itfun when you know that you gonna die young
It’s suchfun
Good fun
Such fun
Such fun
Aah suchfun
Such fun
Such funaah
Yeah fun,
Just fun
Such…
Ain’t itfun when you taking care of number one
Ain’t itfun when you feel like you just gotta get a gun
Ain’t itfun when you just can’t seem to find your tounge
Cause youstuck it too deep into something that really stung
It’s suchfun, ah
Well, sogood to me, they spit right in my face
I didn’teven feel it
It wassuch a disgrace
I punchedmy fist right through the glass
I didn’teven feel it
It happenedso fast
Such fun
Such fun
Such fun
Ah suchfun
Such fun
Such fun
Ah suchfun
Ain’t itfun when you tell her she’s just a cunt
Ain’t itfun when you she splits you and leaves you on the bum
Well, ain’tit fun when you’ve broken up every band that you’ve ever begun
Ain’t itfun when you know that you’re gonna die young
It’s suchfun
Such fun(x 13)
wow…
saya baru 12 tahun…bayangkan saja seorang anak yang tumbuh dalam keluarga kelas menegah didunia ketiga, mendengar lagu itu menyanyikannya keras-keras dan diulang2..bayangkan kegelisahan itu…lirik yang dahsyat untuk saya. Saya semakin tergila-gila pada Axl Rose dan Duff McKagan (bukan Slash!)
dan saya tadi menemukan kliping yang berquote:
"Watching Guns N’ Roses these days is a lesson in how to lose your way."
Raw, December 1992
Saya merasa ambyar, mulai marah, memberontak apapun, membenci apapun, melawan apapun, bahkan saya mulai menjadi berang pada Sang Causa Prima.
Lalu saya sempat bermain band disebuah band yang memainkan social distortion, green day, sex pistols, ramones, radiohad dll. Mendengar Punk, membaca Punk, menyanyi Punk dan tak ada jalan lain selain menjadi Punk.
Waktu berlalu, bahkan saya sempat terlibat beberapa perkelahian kecil karena fanatik terhadap aliran musik. Saya semakin banyak mendengarkan Punk (walaupun tidak juga meninggalkan musik lain..) Biohazard, Klover, Candiria, Public Enemy, Gtribe, dan tetap tergila2 pada Sheryl Crow… dan saya tidak lantas melupakan Beatles, Police, ketika akhirnya saya melihat Kurt Cobain yang menurut saya alamak lebih Punk dari siapapun…Saya ingat memainkan lagu2 Green day daklam sebuah acara kampung yang semua yang maen disana adalah orang2 yang paling tidak 5 thn lebih tua…Sampai dibangku SMA saya masih mencoba membawa Punkism kedalam institusi pendidikan yang lebih mirip penjara anak2 berbakat dari pada SMA berasrama.
Lalu lepas SMA saya masuk kedalam lingkungan para bapak musik elektronik Jogjakarta, saya mulai mendengarkan Massive Attack, Portishead, musik2 yang lebih pelan, so called lowdown…faakkk membingungkan!!!Melancholic bitch, Performance Fucktory, Garden of the Blind, etc. Saya cape…dan suatu hari saya mendengar suara ajaib Brian Molko yang dulu saya anggap aneh karena terdengar banci dalam sebuah filem berjudul Cruel Intention…Saya kembali bersemangat mencari2 The Cure, Bowie, Suede, lalu ketika melihat Trainspotting duh!!! saya cinta musik2 ke-inggris-inggrisan… jatuh cinta pada Blur, dan dalam kehidupan sehari2 begitu kecanduan musik2 yang menggalau. Sampai saya sadar bahwa meski lambat, Sigur ros lumayan memukul keras pelipis saya.
25 tahun…Saya sempat merasakan revolusi buah dari gerakan massa yang menggulingkan salah satu rezim terkuat didunia didalam sejarah dunia modern. Krisis moneter yang diikuti Krisis identitas pada sebuah bangsa. Walaupun saya tetap tenang2 sementara Bapak dan Ibuk saya mencari 9 bahan pokok yang makin langka, musik sedih pengiring pemakaman para pahlawan reformasi sering saya kompilasi sendiri, yah band2 diatas sudah pasti banyak yang masuk playlist imaginary itu.
Sekarang, bahkan untuk seorang saya, yang nyaris menyandang gelar kesarjanaan, saya sering kali memikirkan betapa Fat Mike-nya NoFX jauh lebih mendidik dari guru Fisika atau Seni Proyeksi saya di bangku SMA. OMG!lalu ada apa ini?bagaimana saya merasa menjadi seorang yang sia2 belajar karena ilmu Politik? Bukan penyesalan mentah, namun permenungan tentang hidup dari sudut pandang jenjang pendidikan dasar ini membuat saya sering bertanya Terus bagaimana jika sampai disini? haruskah saya mendengar musik langgam jawa saja? Karena tidak terbayang apa yang harus saya perbuat dengan gelar ini? Sampai kapan saya merasa bangga sekaligus takut akan tanggung jawab moral seseorang yang bergelar sarjana?
Dalam benak saya terbesit bahwa saya harus segera menemukan lagi lagu apa yang tepat untuk melewati waktu yang makin lama makin cepat berlalu ini. Munkin saya harus mencari CD Homicide-Nekrophone dayz saya dan memutarnya keras2, tapi jangan sampai orang lain dengar, dan pasti saya akan memaknai lagi apa yang telah terjadi.